Prisip, haruskah?

Satu hal yang paling berharga dalam diri manusia adalah prinsip. Ketika seorang tidak lagi mempedulikan prinsip, orang seolah tak ada lagi harganya. Inilah yang saat ini sedang terpikirkan oleh ku. Di zaman seperti ini masih kah ada orang yang mau peduli pada sebuah prinsip? Apalagi jika prisip itu telah lama masyarakat mencampakkannya.

Maka ketika zaman dimana orang-orang tidak lagi berpegang pada sebuah prinsip "mulia", seorang yang tidak seperti kebanyakan orang adalah "mutiara". Di saat masyarakat berlomba pamer kekayaan bergaya hidup mewah dan materialis, seorang yang hidup bersahaja adalah "mutiara". Ketika orang-orang tidak peduli haram-tidaknya rejeki yang diperoleh, maka orang yang berhati-hati menjaga kehalalan hartanya adalah mutiara. Di masa Orang bersikap individualis tak peduli pada sesama, maka seorang yang berjiwa sosial adalah mutiara. Ketika kebanyakan manusia sudah melepaskan agamanya, maka seorang yang memegang erat agamanya adalah mutiara.

Benar gak sih? tahulah..

~ Minggu, September 06, 2009 4 komentar

Jika Kematian Datang Tiba - Tiba, Siapkah Kita?

Ku tak pernah tahu kapan dan dalam keadaan apa nantinya nyawaku kan dicabut.. tidakkah ku berfikir? tidakkah kuberfikir? tidakkah kuberfikir? tidakkah kuberfikir? tidakkah kuberfikir? LIHAT DAN PERHATIKAN VIDEO INI.. tidakkah ini akan jadi pelajaran?

Dan tidak satu diri tahu apa yang ia akan kerjakan besok. Dan tidak satu diri tahu di bumi mana ia akan mati (Al-Quran: Surat Luqman ayat 34 )






Video Courtesy of:
http://www.youtube.com/watch?v=-VVZQWx7rac
http://www.youtube.com/watch?v=jg6Txc6ORrQ

~ Senin, Juni 22, 2009 4 komentar

Ajaib, Cara Kerja Otak Manusia


syaa sganat haern bwhaa syaa daapt mrgnteri apa ynag snedag syaa bcaa.

Ktauekan famneonel prikain misnuaa

Mrenuut saebuh pitelanien di uirvensaits cmdrbigae, taidk aakn jdai mlaasah bmagiaanupan uutran sanusun huurf daalm sautu ktaa, hyana stau hal ynag pinentg, yitau: latek huurf pmetara dan huurf thikerar huras daliteakn di pisosi ynag beanr. Palaketen huurf linayna bsia sjaa kcaau, tpai adna msiah daapt bsia macemba tpana mlasaah. ini kenara prikain misnuaa taidk macemba saitep hruuf, aakn tapeti macemba ktaa sareca kalusuheren.

Trivia: Reading Test, product of udderbuffooneryTM

~ Rabu, Juni 10, 2009 7 komentar

Nasrudin Pemungut Pajak

Kisah Nasrudin yang saya kutip di artikel "Anugerah Yang Biasa?", rasanya mengusik saya untuk menampilkan kisah kocak Nasrudin lainya yang menurut saya bikin para pembaca ter - senyum. berikut ini kisahnya:

Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan. Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir keluar.

Timur Lenk memerintahkan Nasrudin yang telah dipercayanya untuk menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih besar. Nasrudin mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia menggantikan tugas para pemungut pajak. Namun, pajak yang diambil tetap kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Nasrudin pun dipanggil.

Nasrudin datang menghadap Timur Lenk. Ia membawa roti hangat.

"Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Nasrudin?" bentak Timur Lenk.

"Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka," jawab Nasrudin dengan gaya pejabat.

"Kau berpura-pura gila lagi, Nasrudin?" Timur Lenk lebih marah lagi.

Nasrudin menjawab takzim, "Paduka, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku pindahkan pada roti hangat ini."

~ Sabtu, Juni 06, 2009 2 komentar

Anugerah Yang Biasa?

Sore kemaren saya pergi ke kampus. Jika dua tahun terakhir ke kampus saya selalu naik motor, tapi tidak untuk kali ini. Tidak pula naik angkot karena terlalu lama nunggunya. Sepeda yang menjadi alat transportasi alternatif sejak dua bulan terakhir juga nggak bisa diajak kerjasama. Akhirnya kupakai alternatif kebiasaan di awal-awal semester, yaitu "jalan kaki".

Kakipun melangkah, dan baru bejalan 100 meteran, rasa capek sudah menghantui saya. Apalagi mengingat masih ada 800 meteran sisa jarak yang harus ditaklukkan, rasanya tambah berat aja. Akh... masak sih jalan begitu saja capek? ntah kenapa rasanya jalan kaki kok begitu berat yach.. padahal dulu di awal-awal semester, dengan jalur dan jarak yang sama, jalan kaki adalah aktivitas yang sangat ringan, bahkan sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Ke kampus, ke warteg, ke perpustakaan, ke kos temen-temen, tak lepas dari jalan kaki. it's ok.

Sejak kehadiran motor 2 tahun terakhir, aktivitas jalan kaki memang makin kurang. bahkan saya lupa kapan terakhir kali saya jalan kaki. mungkin hanya ke warung makan yang berada di depan kos dan ke masjid sebelah kos saja, saya jalan kaki. Selain aktivitas itu, rasanya tak afdhol kalo nggak naik motor.

Nah sore kemaren, saya coba jalan kaki lagi ke kampus. tak kusangka rasanya berat sekali. kemana rasa ringan dan fun saat jalan kaki yang pernah kualami dulu??? berfikir sejenak &$+%@!*@ eh jadi inget cerita kocak "Nasrudin", tokoh nyentrik yang dikisahkan sebagai "wali" hidup pada masa Tamarlane (Timur Lenk).

Dikisahkan Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.

Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah.

"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.

"Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."

Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"

"Bukan begitu maksudku. Kalu salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."


"Akan terbiasa dan berjalan normal" sepertinya itu benang merahnya.

Pertama kali saya mendapat motor, adalah suatu yang luar biasa enaknya. tak henti-hentinya saya bisa bersyukur diberi alat yang memudahkan aktivitasku. Suatu pemberian yang istimewa kala itu, sebelum akhirnya tergerus oleh perjalanan waktu. "Keistimewaan" anugerah sebuah motor menguap seiring berlalunya matahari menyinari bumi tiap harinya hingga akhrinya menjadi barang yang "biasa".

Jalan kaki sore itu, mengingatkan kembali betapa istemewa dan luarbiasanya nikmatnya diberi "motor". tentu saja juga barang - barang yang lain yang mungkin selama ini menjadi barang yang dianggap biasa.

Apakah rumah, mobil, laptop, kuliah, pekerjaan, perusahaan, istri, suami, anak, kesehatan, dan karunia-karunia yang lain bahkan sampai rambut yang menutupi kepala kita akan menjadi sesuatu yang biasa yang tidak patut disyukuri, hanya karena sudah terbiasa melekat dalam hidup? coba kalo semua itu pergi....

referensi kisah: media.isnet.org

~ Kamis, Juni 04, 2009 1 komentar

Penyesalan


Hidupku adalah kepingan kepingan waktu yang tercecer
Berserakan membentuk alur menyedihkan
Merobek tiap jengkal keindahan
Hingga pahit dan getir yang terasa

Setiap usaha jadi ke sia-siaan
Kegagalan mengumpulkan pecahan kemenangan
Melekatkan nama pesakitan
Dalam setiap kesempatan

Beruah adalah satu kata
Memancarkan cahaya asa
Tetapi raga kehilangan semangat jiwa
Terbuai dalam lingkaran dinding dinding hampa

Kembalikan waktuku, teriakku
Tetapi hanya gema yang masuk di telingaku
Berakhir sudah, fikirku..
Bisakah berubah dengan kesempata masa belum berlalu
Atau tinggal sisa-sisa penyesalan.

Fathi
Semarang, 10 April 2009

~ Rabu, Juni 03, 2009 3 komentar

Good Bye


Tiba waktu itu
datang sebuah akhir
mulai sebuah awal
lembar demi lembar kisah

cinta sebuah persahabatan
terekam indah dalam ingatan
tawa sebuah kebersamaan
tertulis indah dalam ikatan
di hatiku ini
di memoriku ini
kan ku simpan rapi
sampai jumpa kembali

kawan..

Fathi
Surabaya, 27-2-08
Image Illustration : http://hissweetheart.wordpress.com

~ Senin, Juni 01, 2009 2 komentar